SEJARAH GKII KLUNGKUNG SEMARAPURA

Ditulisnya
sejarah berdirinya Gereja Kemah Injil Indonesia Jemaat Klungkung
dilatar belakangi oleh karena sampai dengan saat ini sedikit sekali petunjuk
yang dijadikan patokan kapan berdirinya Jemaat Klungkung ini.
Disamping
hal tersebut penulisan ini kiranya dapat dijadikan pedoman bagi generasi
sekarang dan yang akan datang agar mereka tahu sejarah berdirinya Gereja Kemah
Injil Indonesia Jemaat Klungkung, dan mengetahui orang- orang yang dipakai
Tuhan dalam pekerjaan- Nya.
Keterbatasan kemampuan, informasi menjadi suatu hal yang menjadi faktor penulisan ini menjadi tidak sempurna, oleh karena itu semua saran dan informasi dari pembaca sangat diharapkan. (Semarapura, Februari 2018) (Tim Penyusun).
1. Maksud
dan Tujuan Penulisan Sejarah Gereja Kemah Injil Indonesia Jemaat Klungkung
- Sejak berdirinya,{ saat itu masih bernama Kemah
Injil Gereja Masehi Indonesia Timur (KINGMIT), secara resmi bernama Gereja
Kemah Injil Indonesia (GKII).berdasarkan Akta Notaris Nomor 14, tanggal 11 Juli
1984, terdaftar pada Kementerian Agama Republik Indonesia Nomor 87 tahun 1987,
Tambahan Berita Negara RI 105, tanggal 31 Desember 1993. Secara hirarkhis GKII
Jemaat Klungkung berada dalam GKII Daerah Bali, Wilayah Indonesia Timur II,
yang selanjutnya dalam penulisan sejarah ini ditulis dengan; Gereja Kemah Injil
Indonesia Jemaat Klungkung (GKII Jemaat Klungkung) } sampai dengan saat
ini belum ada catatan- catatan yang dapat memberikan petunjuk kapan, bagaimana
gereja ini berdiri, siapa para pelaku sejarah yang dipakai oleh Allah untuk
mewujudkan pekerjaan- Nya di Klungkung, sehingga gereja ini ada seperti
sekarang ini
- Maksud penulisan sejarah Gereja Kemah
Injil Indonesia Jemaat Klungkung;
Sebagaimana dipahami sejarah adalah
peristiwa
yang benar-benar terjadi pada masa lampau (kejadian dan peristiwa, fakta dan kenyataan dari masa
lampau), sehingga dengan demikian maksud penulisan sejarah Gereja Kemah Injil
Jemaat Klungkung adalah untuk mengetahui serta menghimpun semua peristiwa, atau
fakta yang terjadi di masa lampau yang berkaitan dengan berdirinya GKII Jemaat
Klungkung dalam suatu dokumen. Sampai sekarang ini
belum ada dokumen resmi yang dapat dijadikan pegangan tentang berdirinya Gereja
Kemah Injil Indonesia Jemaat Klungkung
- Tujuan penulisan Sejarah Gereja Kemah
Injil Indonesia Klungkung adalah dengan telah terhimpunnya dalam suatu dokumen semua peristiwa, atau fakta yang terjadi di masa lampau tentang Gereja
Kemah Injil Indonesia Jemaat Klungkung, maka tujuan penulisan sejarah ini
adalah:
1. Untuk mengetahui kebesaran Karya
dan Anugerah Allah kepada umat manusia, khususnya kepada umat percaya
di- Kabupaten Klungkung
2. Agar generasi yang sekarang dan
generasi yang akan datang dapat mengetahui bagaimana gereja ini berdiri,
bagaimana Tuhan memakai orang- orang yang
dipilih- Nya untuk mewartakan berita Keselamatan yang dianugerahkan
kepada umat manusia.
3. Untuk menumbuhkan rasa memiliki
dan mencintai gereja, ikut bertanggungjawab agar gereja Kemah Injil Indonesia Jemaat
Klungkung sebagai wadah untuk pertumbuhan iman jemaat.
2. Metoda
Penulisan
Sebagaimana
sudah disebut pada awal bagian ini sumber- sumber yang dijadikan acuan untuk
mencari awal berdirinya GKII Klungkung sangatlah kurang.
Oleh
karena itu tim penyusunan sejarah GKII Jemaat Klungkung berusaha mencari dari
berbagai sumber seperti buku- buku atau catatan yang mungkin sedikit memberikan
petunjuk, serta mewawancarai para Hamba Tuhan dan tokoh- tokoh yang masih hidup
yang mengetahui fakta dan peristiwa yang terjadi pada masanya masing- masing.
Dengan kedua
metoda ini diharapkan mendapat gambaran yang objektif tentang sejarah
berdirinya GKII Jemaat Klungkung
II. BERDIRINYA
GEREJA KEMAH INJIL JEMAAT KLUNGKUNG
(GKII JEMAAT
KLUNGKUNG)
1. Masa Perintisan oleh Pdt. Rodger Lewis (1954-
1969)
Masa perintisan ini dimulai dengan ditempatkannya seorang Missionaris C&MA pada bulan Januari 1954 yang bernama Pdt. Rodger Lewis di- Klungkung dan menyewa tempat tinggal didaerah Tapean. Di daerah ini pada suatu malam Pdt. R Lewis mendengarkan bunyi- bunyian gambelan orang sedang melakukan persembahyangan, lalu keluarga ini berfikir “apakah Injil bisa menerobos hal ini”, tetapi Tuhan mengingatkan untuk; “setia saja, berusaha lebih keras” Kondisi ini tidak menyurutkan panggilan Sang Missionaris untuk terus mewartakan “Kabar Baik” itu, beliau teringat dengan apa yang dikatakan Dr. R.A Jeffray. Ibu Pdt. Lelia Lewis,MA. mengisahkan kepada penyususun sebagai berikut: “Pada saat Dr R.A Jeffray pertama kali mengunjungi Pulau Bali, beliau berkesempatan mengunjungi Goa Lawah di- Desa Pesinggahan, pada saat itu Dr. RA. Jaffray berdiri didepan goa tersebut memberi nubuat bahwa Injil Kristus akan mengusir segala roh- roh jahat dari pulau ini dan Tuhan memberikan beliau Yesaya pasal 54; Lapangkanlah tempat kemahmu, dan bentangkanlah tenda tempat kediamanmu, janganlah menghematnya; panjangkanlah tali-tali kemahmu dan pancangkanlah kokoh-kokoh patok-patokmu! Ayat 3; Sebab engkau akan mengembang ke kanan dan ke kiri, keturunanmu akan memperoleh tempat bangsa-bangsa, dan akan mendiami kota-kota yang sunyi” Inilah yang menguatkan dan sekaligus menjadi pendorong keluarga Pdt. Lewis untuk lebih giat dan berusaha lebih keras lagi.
Pada Tahun 1955 seorang dokter yang bernama Dokter Sim, seorang
dokter yang mewilayahi Kabupaten Klungkung, Gianyar dan Karangasem mengajak
keluarga Pdt. Rodger Lewis untuk tinggal dekat rumah Dokter Sim, untuk
dijadikan tempat ibadah, dari tempat inilah Injil diwartakan melalui sekolah minggu, pemutaran
film tentang Injil pada setiap hari Sabtu sore dan banyak sekali orang yang
menonton.
Pada suatu perayaan natal kira- kira tahu 1956 ruangan itu penuh, Cokorda yang menjabat Bupati Klungkung waktu itu juga hadir, paduan suaranya dari Gereja Singaraja karena pada waktu itu di- Singaraja sudah duluan berdiri gereja yang dipimpin oleh Pdt. J.P Kantohe, sehingga dapat dikatakan pada waktu itu tempat inilah yang menjadi pusat penginjilan di- wilayah Bali bagian timur, hal ini sangat beralasan karena pada saat Pdt. Lewis ditempatkan di Klungkung, belum ada satupun gereja berdiri didaerah ini, kecuali Gereja Pakuseba dan Untal- Untal. Dari Klungkung Pdt. Lewis juga membuka pelayanan di- Kabupaten Karangasem ditempat ini beberapa orang pernah melayani antara lain Pdt. Gede Reta, dan Pdt. Anak Agung Panji Tisna.
Semenjak ditempatkan di Klungkung Pdt. Rodger Lewis mengunjungi desa-desa dan melapor kepada kepala kampung, sambil membawa traktat, bagi orang yang ingin tahu lebih banyak tentang Injil mereka dapat membeli traktat itu. Perkembangan perkabaran Injil di Klungkung ini tidak seperti perkembangan perkabaran Injil pada awal masuknya ke Pulau Bali seperti halnya yang terjadi di Bali bagian barat. Sudah banyak orang diberbagai desa di Klungkung mendengarkan Injil, tetapi karena kuatnya ikatan adat istiadat, tradisi dan agamanya mereka menjadi sulit untuk menerima “Kabar Baik” itu.
2.
Berdirinya Gereja Kemah Injil Klungkung
Kerja Roh Kudus mulai menerangi hati seorang pemuda bernama Bpk I Nyoman Sutara dari Desa Besan, berkenalan dengan Pdt. Rodger Lewis, pemuda ini sering berkunjung kerumah Pdt. Rodger Lewis sebaliknya Pdt. Rodger Lewis juga sering berkunjung ke Desa Besan. Bpk I Nyoman Sutara mulai belajar perihal anugerah keselamatan itu dan pada akhirnya beliau menerima Kristus sebagai Juruselamatnya dan dibaptis pada tanggal 22 Februari tahun 1957 di Kali Unda, inilah buah sulung setelah 4 tahun Injil ditaburkan di Klungkung. Atas permintaan Pdt. Rodger Lewis baptisan pertama di Klungkung ini dilaksanakan oleh Pdt. I Made Gelebug, tanggal baptisan I Nyoman Sutara pada 22 Februari 1957. Dengan demikian Badan Pengurus Jemaat GKII Klungkung kemudian ditetapkan sebagai tanggal berdirinya Gereja Kemah Injil Indonesia Jemaat Klungkung, sehingga pada tanggal 22 Februari 2018 diperingati Hari Ulang Tahun ke- 61 GKII Klungkung. Dibawah ini foto Bpk I Nyoman Sutara dari Desa Besan:
Mulai tahun 1963 rumah yang beralamat Jln Untung Surapati No. 47 ini selain sebagai tempat ibadah, juga dijadikan tempat untuk menampung beberapa anak sekolah dari Desa Pakuseba. Namun karena situasi pada saat itu yang tidak memungkinkan beberapa anak kembali ke desa masing-masing, dan hanya tinggal beberapa orang saja. Klungkung pada saat itu dapat dikatakan sebagai pusat penginjilan untuk wilayah Bali bagian timur, karena pada tahun 1963 Anak Agung Panji Tisna ditugaskan di Kabupaten Karangasem untuk melayani di tempat ini, sedangkan Pdt. Lewis sesekali berkunjung dan melayani ke Karangasem.
Pada tahun tahun 1965 Pdt. Rodger Lewis membuka kursus untuk pemuda yang terpanggil untuk melayani Tuhan, mereka disiapkan sebagai tenaga penginjil untuk ditempatkan dibeberapa daerah di Bali, beberapa hamba Tuhan yang berhasil dididik antara lain: Pdt. Wayan Suakha yang sampai kini menjadi Gembala Jemaat GKII Sinar Injil Pakuseba, Made Terima. Made Terima adalah seorang yang berasal dari Lampung, setelah menjalani kursus, beliau kembali ke Lampung untuk mengembalakan jemaat yang mengutusnya.
Benih-benih Injil yang sudah lama ditaburkan mulai bersemi, beberapa jiwa dibaptis, tercatat seseorang bernama I Nyoman Keteg ( setelah dibaptis bernama I Nyoman Matius) dari Desa Anjingan, I Nyoman Rauh dari Karangasem, selain itu ada beberapa orang yang karena tugas di Klungkung/perantau ikut bergabung dengan Gereja Kemah Injil Klungkung. Pdt. Rodger Lewis melayani di Klungkung selama 15 Tahun (lima Belas Tahun) dari tahun 1954 s/d tahun 1969, selama melayani ditempat ini beliau dibantu oleh: Pdt. Wayan Radeg Moerthy, Pdt. Rudy Pangemanan. Selanjutnya pelayanan dilanjutkan oleh beberapa hamba Tuhan antara lain:
1. Pdt. Ni Made Sulastri ( 1969 – 1972)
Pelayanan yang sudah dirintis selama 15 tahun di Klungkung dilanjutkan oleh Pdt. Ni Made Sulastri didampingi oleh suaminya yang bernama Eddy Kastanya, selain melanjutkan pelayanan rutin kepada jemaat, pada masa ini mulai dipikirkan untuk membeli sebidang tanah untuk dibangun gedung gereja yang permanen, maka dibelilah sebidang tanah di Desa Budaga. Karena harus mengikuti suaminya melanjutkan pendidikan di Ujung Pandang, maka Pdt. Ni Made Sulastri juga harus meninggalkan jemaat Klungkung untuk sementara waktu.
2.
Ev. Naomi Malaibel ( 1973- 1977)
Ev. Naomi Malay mulai melayani sejak 1 Januari tahun 1973 sampai dengan tanggal 20 April tahun 1977. Pada masa pelayanannya ini pada tahun 1974 membuka Pos PI di Padangbai, ditempat ini dilayani satu keluarga bernama Bapak Mislan Yahya, dan mulai tahun 1975 secara rutin diselenggarakan ibadah pada setiap hari minggu sore, selain Ibu Naomi sebagai Gembala Jemaat, pelayanan di Gereja Kemah Injil Klungkung pada saat itu juga dilayani oleh Pdt. Nyoman Gama, secara bersama- sama melayani melayani ditempat ini.
Selain pelayanan di Pos PI Padangbai, pelayanan Pos PI Besan tetap dilaksanakan, untuk melayani seorang yang bernama I Nyoman Sutara (dibaptis tanggal 22 Februari 1957). Setelah memerlukan kurun waktu yang cukup panjang Pos PI Besan perlahan mulai berkembang seorang tokoh agama Hindu, seorang pemangku yang pada awalnya sangat membenci orang Kristen, beliau yang bernama I Wayan Degeng bertobat untuk menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, pada tanggal 18 Juni 1989 dibaptis, sejak saat itu rumahnya disediakan untuk dijadikan Pos PI Besan, sampai saat ini dilayani setiap hari Kamis malam.
3.
Pdt. Ni Luh Sarah, B.Ts (1977 – 2017)
Karena
perkembangan jemaat, gereja mulai memikirkan untuk membangun gedung gereja, dan
mulai membeli tanah, atas pertolongan Tuhan
mulai dibangun tempat ibadah permanen yang beralamat di Desa Kemoning,
Jalan Meneuh No. 15 Semarapura, selesai
dan diresmikan pada tahun 1980.
Pos PI Bangli yang dibuka tanggal 1 Januari 1994 oleh Pdt Alfret Tololiu, S.Th. pada mulanya adalah pos PI yang berdiri sendiri, tidak berada dibawah gereja induk, namun karena ketentuan bahwa setiap Pos PI harus berada dibawah gereja lokal sebagai gereja induk maka pos PI ini pada tahun 2015 secara penuh berada dibawah GKII Klungkung dengan menempatkan Pdt. I Wayan Satu Negeri Antara,S.Th. sebagai Gembala Pos PI. Atas donasi dari Pdt. Dr. Andreas Kang Pos PI Bangli sudah memiliki gedung permanen dan diresmikan pada Tahun 2017. Pdt Wayan Satu sudah melayani di Pos PI ini sejak bulan Desember tahun 2010 pada tanggal 2 Februari tahun 2018 hamba Tuhan ini mendapat tugas baru sebagai Gembala Jemaat GKII Ambiarsari di Pangkungtanah, Melaya Kabupaten Jemberana. Untuk sementara ditempat ini ditempatkan seorang tenaga magang: Yesaya Penlobang, S.Th.
Selain Pos Pos PI diatas pada tanggal 4 Oktober tahun 2014 GKII
Klungkung membuka Pos PI Persada Sari, sebelumnya Pos PI ini bernama Pos PI
Galelia, adalah seorang pengusaha yang bernama Agus Sumantri yang memberikan
rumahnya untuk dijadikan tempat ibadah, seiring dengan perkembangan waktu pos
PI ini berkembang dan pada tanggal 11 Juli tahun 2016 ditetapkan sebagai gereja mandiri.
Pos PI Padangbai yang dibuka tahun
pada tahun 1974 oleh Pdt. Naomi, pada masa pelayanan Pdt. Ni Luh Sarah masih
dilanjutkan, pada tahun 1992 keluarga Mislan Yahya pindah ke Desa Kusamba lalu
ditempat ini juga dipakai sebagai Pos PI Kusamba, sedangkan di Pos PI
Padangbai melayani seorang bernama Ibu Made Landri.
Pdt. Ni Luh Sarah, B.Ts. memasuki masa
pensiun pada tanggal 5 Maret 2017, dan pada tanggal 8 Oktober 2017 digantikan
oleh Pdt. Edy Mansyur,S.Th sampai sekarang.
3. Perintisan di Nusa Penida ( Tahun 1957)
Penginjilan di Nusa Penida dirintis oleh Pdt. I Made Gelebug, beliau masuk ke- pulau ini pada tahun 1957, medan yang berbukit-bukit tandus dan kekuatan kuasa kegelapan tidak menghalangi semangat hamba Tuhan ini untuk memberitakan sumber air kehidupan kepada orang di pulau ini. Mengenai kuasa-kegelapan ini Pdt. Ni Luh Sarah (anak pertama Pdt. Made Gelebug) kepada penulis menuturkan sebagai berikut;
“Kami tinggal di Desa Sampalan, Nusa Penida, pada
saat ada upacara agama, kami diberikan makanan oleh tetangga, tetapi mama saya
melarang anak-anak makan pemberian tetangga itu, karena makanan itu berisi
atau keluar ulat”
Usaha yang tak kenal lelah dari penginjil ini mulai tampak dengan beberapa orang menerima Tuahn Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya dan akhirnya lahir sebuah jemaat kecil. Karena secara geografis pulau Nusa Penida saat itu gersang dan tandus, secara ekonomi sangat tidak menjanjikan, maka untuk memperbaiki taraf hidupnya jemaat kecil Nusa Penida ini bertransmigrasi ke Pulau Sumatera di Daerah Lampung. Mengenai transmigrasi ini Ibu Pdt. Lelia J Lewis, MA. menuturkan sebagai berikut: “Pada waktu itu, tahun 1960 ada sekitar sembilan puluh orang lebih dari Nusa Penida yang menginap dirumah kami di Klungkung, mereka akan berangkat ke Sumatera, mereka diantar oleh Pdt. I Made Gelebug” Jemaat Nusa Penida berkembang di daerah transmigrasi ini, pada tahun 1965 seorang yang bernama Made Terima diutus ke Klungkung untuk dididik sebagai penginjil, setelah selesai mengikuti Pendidikan, ia kembali ke Lampung dan melayani ditempat ini sampai sekarang, sedangkan di Nusa Penida hanya sesekali dikunjungi oleh Pdt. I Made Gelebug.
Perkembangan penginjilan di Nusa Penida diibaratkan sebagai tumbuhan yang ditanam ditanah yang gersang, pertumbuhannya sangat lambat sekali, demikian halnya Injil yang sudah ditebarkan sejak tahun 1957, di Nusa Penida sangat sulit sekali berkembang, tidak seperti perkembangan Injil didaerah transmigrasi di Lampung, namun bibit-bibit Injil yang ditebarkan dahulu itu rupanya masih tertanam dan bersemi kembali. Roh Kudus tetap bekerja satu keluarga dari Desa Bunga Mekar yang bernama I Wayan Somantara dan istrinya Desak Nyoman Susun beserta anak- anaknya menerima Kristus dan dibaptis pada tanggal 12 Maret tahun 2009. Pada tanggal 11 Juli 2004, seorang pemuda bernama I Wayan Satu Negeri Antara dibaptis dan terpanggil untuk melayani Tuhan, setelah menyelesaikan study di STT Jeffray Ujung Pandang pada tahun 2010 ditugaskan untuk melayani Po PI Bangli s/d 2 Februari 2018, kini yang bersangkutan mengemban tugas sebagai Gembala Jemaat GKII Ambiarsari di Pangkung Tanah.
Peringatan
Hari Ulang Tahun ke- 61 GKII Klungkung
Berdirinya GKII Klungkung pada tanggal 22 Februari 1957 untuk pertama kali diperingati pada Hari Ulang Tahun yang ke 61, pada hari Kamis, 22 Februari 2018, diundang sebagai pengkotbah salah seorang hamba Tuhan yang pernah menjadi Gembala Jemaat GKII Klungkung yang bernama Ibu Naomi Malay, kini beliau melayani di Mataram NTB. Selain dihadiri oleh anggota jemaat Peringatan HUT ke-61 GKII Klungkung juga dihadiri oleh unsur pengurus GKII Daerah Bali: Pdt. Margo Adi, S.Th. Pdt. Agus Smith, S.Th dan Agus Sumantri.
Ibu Pdt. J. Lelia Lewis,MA. salah seorang pelaku sejarah berdirinya GKII Klungkung tidak berkesempatan hadir karena kondisi yang tidak memungkinkan, namum beliau mengirimkan pesan singkat sebagai berikut;
“Mengucapkan Selamat Hari Ulang Tahun GKII Klungkung, menyesal tidak dapat hadir, tapi bersyukur karena Pendiri, Pembangun, Pemelihara hadir di- tengah- tengah kalian semua! Kiranya Dia lah yang dimuliakan! Tuhan memberkati”
![]() |
(Sejarah GKII Klungkung ini masih jauh dari sempurna)
Keterbatasan kemampuan, informasi menjadi suatu hal yang menjadi faktor penulisan ini menjadi tidak sempurna, oleh karena itu semua saran dan informasi dari pembaca sangat diharapkan. (Semarapura, Februari 2018) (Tim Penyusun)


Komentar
Posting Komentar